Ibu dan Hari Ibu

Tanggal : 30 Desember 2014 - Penulis : Administrator



Atur ukuran font text : A+ A-

Oleh

SITI NURSUSILA,S.IP.,M.MSip

Kecuali Adam dan Hawa, semua kita hadir ke dunia ini melalui jalan yang sama, yaitu dilahirkan oleh orang yang kita panggil dengan sebutan ibu. Peran ibu dalam kehidupan kita tak dapat dinilai dengan apapun yang kita miliki, bahkan pada hakekatnya kita dengan segala kehidupan dan kekayaan kita adalah milik ibu kita. Ibu bukan saja sebagai penyebab dan jalan yang mengantarkan kita hadir ke dunia, tetapi juga merupakan orang yang paling kita repotkan ketika kita masih kecil dan paling tulus memotivasi dan mendoakan kita setelah kita menjadi remaja dan dewasa. Itulah sebabnya tiada agama yang kita yakini yang tidak mengajarkan untuk berbakti kepada ibu, demikian juga tiada nilai-nilai moral, etika, kesopanan, kesusilaan yang tumbuh bersama kesejarahan peradaban manusia yang tidak meletakan ibu pada posisi yang mulia dan dihormati.
Peran penting dan strategis seorang ibu dalam kehidupan setiap orang ini sudah sejak lama telah menumbuhkan kesadaran kolektif masyarakat duania, sehingga hampir semua Negara di dunia ini telah menetapkan satu hari dari 360 hari dalam setahun sebagai hari khusus bagi setiap pribadi untuk merenungi jasa-jasa dan kemuliaan orang yang telah melahirkannya itu. Dalam prakteknya setiap orang memiliki cara sendiri-sendiri dalam memaknai hari ibu, mulai dari sekedar mengucapkan selamat hari ibu, memberikan ibunya bunga atau kado khusus, mengajaknya jalan-jalan atau berbelanja dan lain sebagainya.
Di Negara kita, hari ibu diperingati setiap tanggal 22 Desember. Kalau kita perhatikan sejarahnya, penetapan hari ibu tersebut pertama kali diputuskan oleh para perempuan yang tergabung dalam organisasi Perempuan Indonesia, yaitu pada konggres perempuan Indonesia III tahun 1938. Sedangkan organisasi perempuang itu sendiri sudah ada sejak tahun 1912 yang diilhami oleh para pejuang-pejuang perempuan nasional, seperti M. Crinstina Tiahahu, Cut Nya Dien, Cut Mutia, R.A. Kartini, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rangkayo Rasuna Said dan lain-lain. Selanjutnya hari ibu ditetapkan sebagai hari Nasional oleh Presiden Soekarno melalui dekrit Presiden No. 316 tahun 1959.
Memperhatikan aspek kesejarahannya tersebut maka pada hakekatnya hari ibu di Indonesia bukan saja bermakna sebagai hari untuk merenungi jasa dan memuliakan ibu, tetapi juga mengandung makna semangat perjuangan perempuan. Dengan demikian Hari Ibu di Indonesia memiliki makna ganda, yaitu hari bagi anak untuk merenungi jasa dan memuliakan ibu sekaligus juga hari bagi para ibu dan para perempuan umumnya yang merupakan calon ibu untuk merenungi dan melakukan otokritik, sudahkan mengisi kemerdekaan ini dengan sebaik-baiknya seperti harapan para perempuan pencetus hari ibu itu, minimal dalam perannya sebagai ibu rumah tangga, sebagai isteri bagi suaminya dan sebagai ibu dari anak-anaknya?
Menjadi ibu tentu tidak semudah menjadi ayah, apalagi menjadi anak. Menjadi ayah tinggal berusaha bekerja untuk memenuhi segala kebutuhan rumah tangganya dengan penghasilan yang halal. Sedangngkan menjadi anak tinggal menikmati kasih sayang dan materi dari ibu dan ayah, dan pada gilirannya membalas kasih sayang dan materi itu dengan berbakti kepada keduanya. Tetapi menjadi ibu, selain harus menderita mengandung dan melahirkan anak, ia juga merupakan orang yang paling dekat dengan anak dan oleh karena itu paling bertangungjawab terhadap pembentukan karakter dasar sang anak melalui pendidikan dalam keluarga. Para ibu perlu menyadari bahwa apapun bentuk perlakukan ibu terhadap sang anak maka itu akan membentuk kepribadiannya. Jika sikap kasar yang ibu berikan maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang kasar pula. Sebaliknya jika sikap lemah lembut yang ibu berikan maka ia akan tumbuh menjadi pribadi yang lemah lembut pula. Oleh karena itu tumbuhkanlah kebiasaan-kebiasaan positif di rumah tangga ibu, ucapkan kata “aku sayang kamu” kepada sang anak sesering mungkin dan ajarilah mereka untuk membalasnya dengan ucapan yang sama.
Para ibu juga perlu menyadari bahwa anak yang dilahirkannya bukan saja sekedar amanah Allah yang dititipkan yang harus dijaga dan dirawat dengan sebaik-baiknya, tetapi juga merupakan asset Negara yang tidak ternilai pentingnya, karena setiap anak adalah calon pemimpin bangsa ini di masa depan. Di sinilah relevansi pernyataan Bungkarno bahwa perempuan itu merupakan tiangnya Negara.
Sebaliknya karena setiap kita merupakan anak yang dilahirkan oleh ibu, dan setiap ibu adalah perempuan, maka semangat hari ibu meliputi pula penghargaan terhadap eksistesi perempuan pada umumnya. Penghargaan suami terhadap isteri-isterinya, laki-laki terhadap pacar atau kekasihnya dan seterusnya. Ingatlah bahwa setiap laki-laki tidak akan bisa hidup tenang dan bahagia tanpa kehadiran perempuan sebagaimana Adam hidup gelisah dan tidak bahagia sebelum kehadiran Hawa. Oleh karena itu perlakukanlah isteri-isterimu dengan baik karena dia telah melahirkan anak-anakmu sama seperti ibumu melahirkan kamu. Demikian pula bagi setiap laki-laki terhadap pacar atau kekasihnya, perlakukan mereka dengan baik karena kelak dia akan berfungsi seperti ibumu, yaitu melahirkan anak-anak yang akan melanjutkan keturunanmu.
Semoga di masa depan tidak aka ada lagi cerita tentang Kekerasan dalam rumah Tangga (KDRT) dan tidak ada lagi kisah sedih pacaran atau pertunangan yang kandas namun melahirkan anak yang tidak diharapkan dengan segala implikasinya di bidang soaial dan hukum. Aamiin.
(tulisan ini dimuat terakhir pada tanggal 23 Desember 2014 pada kolom Opini koran Radar Tambora).